The Sounds Project Vol.2, Musik Lintas Aliran dan Generasi

 Jumat, 25 November. Waktu menunjukkan pukul 15.30 dan ada pemandangan unik di Gudang Sarinah Ekosistem, gudang yang belakangan sering “disulap” menjadi arena pertunjukkan musik di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan ini, mendadak dipenuhi pria-wanita, remaja hingga paruh baya yang terlihat tidak sabar menunggu open gate untuk dapat segera menyaksikan band-band berkualitas tanah air. Ya, hari itu adalah hari diselenggarakannya The Sounds Project Vol.2, festival musik tahunan yang diselenggarakan oleh Musik Gunadarma berkolaborasi dengan FCS Production.

Alasan mengapa sejak sore hari pengunjung sudah memadati Gudang Sarinah adalah karena Mocca dan Maliq & D’Essentials, dua nama besar di ranah pop-jazz tanah air didaulat menjadi pembuka dan terbukti sangat sukses, Mocca memberikan sajian pop minimalis yang begitu manis demi mengobati kerinduan fans Jakarta mereka yang hadir, dan Maliq, seperti biasa selalu menjadi crowdpleaser, mereka tampil begitu groovy dan enerjik, memberikan pemanasan yang sempurna untuk crowd. setelah Mocca juga tampil Indische Party membawakan lagu-lagu terbaru mereka dari album Analog yang baru saja dirilis.

Selepas maghrib, pengunjung semakin padat di Gudang Sarinah, dipanggung The Sounds Project tampil Scaller, paralel bersama The Trees & The Wild di MG Stage, Scaller yang merupakan energi baru di Industri musik rock Indonesia membuktikan bahwa musik mereka semakin diterima para penggila indie, terbukti ribuan crowd antusias, mengikuti suplai distorsi rock tanpa henti dari duo Stella Gareth dan Reney Karamoy. The Trees & The Wild juga sukses membuat hawa malam itu terasa sedikit berbeda, tampil dengan kualitas musik didukung dengan pencahayaan serta sound yang handal, live performance mereka terasa begitu membius, dan berjalan dengan mulus tanpa adanya gangguan berarti.

Tepat pukul 8 malam, pengunjung semakin banyak berdatangan, dan giliran The SIGIT naik panggung, penonton semakin merapat ke bibir panggung, para Insurgent Army, sebutan untuk fans The SIGIT, sepakat membuat atmosfer semakin liar dengan membentuk beberapa moshpit dan crowdsurfing tiada henti selama total 40menit durasi set mereka. Bersamaan dengan itu di MG Stage juga terjadi koor panjang di saat The Adams membawakan Konservatif, tembang legendaris mereka.

Tepat pukul 9 malam Ian Antono membuka penampilan Godbless dengan solo gitarnya yang begitu magis, intro khas band besar yang pada era keemasannya pernah menjadi pembuka konser deep purple di Jakarta. Ahmad Albar, Abadi Soesman, Donny Fattah, dan Fajar Satritama membuka pertunjukan mereka dengan nomor Bla,Bla,Bla, dan dilanjutkan dengan tembang-tembang epik mereka seperti Musisi, Panggung Sandiwara, Rumah Kita dll. Yang mengejutkan adalah saat lagu rock progresif mereka “Kehidupan”, Iga Massardi (frontman Barasuara) naik ke panggung dan terjadilah kolaborasi lintas generasi.

Bersamaan dengan Godbless, White Shoes & The Couples Company juga tampil di MG Stage. Band retro-pop yang sudah dikenal publik karena kesuksesannya go-interational tanpa terkesan terlalu banyak “bumbu” ini tampil dengan penampilan khasnya yang atraktif.

Setelah kolaborasi kejutan dari Godbless dan Iga Massardi, di The Sounds Project stage tampil kolaborasi Kelompok Penerbang Roket & Sigmun, yang memang sudah diumumkan sebagai performer yang akan hadir dengan konsep “dua band menjadi satu”, dan untuk pertama kalinya di The Sounds Project. Kelompok Penerbang Roket, band rock yang berhasil meroket sesuai namanya ini, berhasil dengan baik menyatukan musiknya dengan Sigmun, quartet rock asal bandung. Beberapa nomor andalan sigmun berhasil dibawakan dengan tempo cepat ala KPR, dan sebaliknya repertoir KPR dibawakan ala sigmun, dengan beberapa kali disisipkan eksplorasi vokal khas haikal (frontman sigmun). Dari tingkat kematangan musik yang disuguhkan, dan kejutan-kejutan didalamnya, terlihat bahwa memang kolaborasi ini sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Unit musik yang paling digandrungi remaja masa kini, Barasuara, tampil menutup gelaran the sounds project. Meskipun tanpa kehadiran salah satu vokalisnya, Asteriska yang harus absen, Barasuara tetap memberikan penampilan terbaiknya dan berhasil menyalurkan begitu banyak energi positif ke penonton. Paduan suara tanpa henti para penunggang badai, sebutan untuk fanbase barasuara, menjadi penutup yang manis malam itu.

Photo by Tiara Febrina
The Sigit 5676466725082946073

Post a Comment

emo-but-icon

Home item

ADS